Inflamasi adalah bahasa medis dari peradangan. Kamu pasti sering mendengar istilah radang bukan? Radang, sebenarnya merupakan bentuk perlawanan tubuh untuk melawan penyakit. Jadi inflamasi memang menjadi bagian dari proses pemulihan tubuh. 

 

Namun, beberapa orang memiliki masalah kesehatan dimana sistem imun bekerja tidak semestinya. AKibatnya proses inflamasi menjadi berkepanjangan ataupun terlalu sering. Beberapa penyakit yang Kamu kenal sebenarnya adalah inflamasi kronis, misalnya psoriasis, artritis reumatoid, dan asma.

 

Nah, salah satu cara mengatasi inflamasi kronis adalah dengan mengonsumsi diet anti inflamasi. Diet ini bisa membantu mengontrol kondisi peradangan yang berat. Diet anti inflamasi umumnya terdiri dari buah-buahan dan sayuran yang mengandung asam lemak omega 3, biji-bijian utuh (whole grain), protein tanpa lemak, serta lemak sehat.

 

Diet anti inflamasi sangat membatasi makanan olahan, daging merah, dan alkohol. Contoh diet anti inflamasi adalah diet mediterania dan diet DASH. Meskipun bisa membantu meringankan dan mempercepat penyembuhan, namun diet anti inflamasi ini bukan obat. 

 

Baca juga: Plus Minus Diet Keto untuk Diabetes

 

Pengertian Diet Anti Inflamasi

Beberapa makanan mengandung zat yang bisa memicu atau memperberat gejala radang. Makanan manis dan olahan salah satunya. Namun ada pula makanan yang berperan membantu mempercepat penyembuhan atau meredakan gejala radang.

 

Diet anti inflamasi fokus pada sayuran dan buah segar. Makanan dari tumbuh-tumbuhan merupakan sumber antioksidan yang baik. Antioksidan yang berasal dari makanan merupakan molekul di dalam makanan yang membantu membasmi radikal bebas dari tubuh. Radikal bebas sendiri adalah hasil alami dari beberapa proses tubuh, termasuk metabolisme.

 

Namun, faktor eksternal, seperti stres dan merokok, juga bisa meningkatkan jumlah radikal bebas di dalam tubuh. Radikal bebas bisa menyebabkan kerusakan sel. Kerusakan ini meningkatkan risiko inflamasi dan meningkatkan risiko sejumlah penyakit.

 

Tubuh menciptakan sejumlah antioksidan yang membantu membasmi senyawa-senyawa beracun ini, namun antioksidan dari makanan juga membantu membasminya. Diet anti inflamasi mengutamakan konsumsi makanan yang kaya antioksidan ketimbang makanan yang meningkatkan produksi radikal bebas.

 

Contohnya, asam lemak omega 3 yang terkandung di dalam minyak ikan bisa membantu mengurangi kadar protein  yang menimbulkan inflamasi di dalam tubuh. 

 

Baca juga: Ini Lho 7 Antioksidan yang Baik untuk Kesehatan Kulitmu!

 

Jenis-jenis Diet Anti Inflamasi

Beberapa jenis diet terkenal secara tidak langsung sudah mengenalkan makanan anti inflamasi. Misalnya, diet Mediterania dan diet DASH. Diet ini memperbanyak asupan buah dan sayuran segar, ikan, whole grain, dan lemak sehat.

 

Inflamasi merupakan salah satu pemich penyakit jantung. Penelitian menunjukkan bahwa diet Mediterania, yang terfokus pada makanan nabati dan minyak sehat, bisa menurunkan efek inflamasi pada sistem kardiovaskular. Sedangkan diet DASH selama ini direkomendasikan untuk penderita hipertensi. 

 

Diet anti inflamasi bisa menjadi bagian pengobatan sejumlah masalah kesehatan akibat perdangan kronis. Berikut beberapa penyakit yang menyebabkan inflamasi kronik:

  • Artritis rheumatoid
  • Psoriasis
  • Asma
  • Esofagiti eosinofilik
  • Penyakit Crohn
  • Kolitis
  • Lupus
  • Penyakit Hashimoto
  • Sindrom metabolik

 

Sindrom metabolik adalah penyakit yang cenderung terjadi bersamaan atau saling memengaruhi, contohnya seperti diabetes tipe 2, obesitas, tekanan darah tinggi, dan penyakit kardiovaskular.

 

Ilmuwan percaya bahwa inflamasi sangat memengaruhi penyakit-penyakit tersebut. Jadi, diet anti inflamasi bisa membantu menurunkan risiko penyakit-penyakit tersebut, termasuk kanker.

 

Baca juga: Jangan Takut, Kamu Bisa Makan Sepuasnya 7 Makanan yang tidak Bikin Gemuk Ini!

 

Makanan yang Dikonsumsi Dalam Diet Anti Inflamasi

Diet anti inflamasi biasanya mengombinasikan beragam makanan yang kaya nutrisi, serta mengandung banyak antioksidan dan lemak yang sehat. Makanan yang bisa membantu mengontrol inflamasi termasuk:

  • Minyak ikan, seperti tuna dan salmon
  • Buah-buahan, seperti blueberry, blackberry, stroberi, dan ceri
  • Sayuran, seperti bayam, kubis, dan brokoli
  • Kacang polong
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian
  • Zaitun dan minyak zaitun
  • Serat
  • Jahe
  • Kunyit
  • Makanan probiotik dan prebiotik
  • Teh

 

Diet anti inflamasi mengharuskan Kamu mengonsumsi kombinasi dari makanan-makanan di atas. Pasalnya, satu makanan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi seseorang.

 

Selain itu, semakin alami suatu makanan, akan semakin baik. Jadi, jangan terlalu matang memasak sayuran. Jangan pula mengolah sayuran dengan bahan-bahan yang tidak alami.

 

Makanan yang Perlu Dihindari Dalam Diet Anti Inflamasi

Orang yang menjalani diet anti inflamasi harus menghindari atau membatasi asupan makanan-makanan ini:

  • Makanan olahan
  • Makanan dengan kandungan gula dan garam yang tinggi
  • Minyak yang tidak sehat
  • Karbohidrat olahan, seperti roti putih, pasta putih, dan lainnya
  • Makanan penutup yang manis seperti cookies, permen, dan es krim
  • Alkohol berlebihan

 

Selain itu, orang yang menjalani diet anti inflamasi juga disarankan untuk membatasi asupan konsumsi:

Gluten: beberapa orang mengalami reaksi inflamasi setelah mengonsumsi gluten. Diet bebas gluten memang cenderung sangat mengekang, dan tidak semua orang cocok dengan diet ini. Namun, kalau Kamu mengalami gejala tertentu akibat konsumsi gluten, maka sebaiknya hindari konsumsi makanan ini.

Sayuran nightshades: sayuran yang tergolong nightshade di antaranya tomat, terong, lada, dan kentang. Sayuran golongan ini memicu kekambuhan pada beberapa orang yang memiliki penyakit inflamasi.

Karbohidrat: ada beberapa bukti bahwa diet tinggi karbohidrat, meskipun ketika karbohidratnya sehat, bisa meningkatkan inflamasi pada beberapa orang. Namun, makanan yang kaya akan karbohidrat, seperti ubi dan whole grain, merupakan sumber antioksidan yang baik.

 

Baca juga: Diet Makan Sehari Sekali untuk Menurunkan Berat Badan, Aman Tidak?

 

Jadi, diet anti inflamasi memang bisa mengurangi inflamasi dan meningkatkan gejala sejumlah penyakit. Meskipun diet anti inflamasi direkomendasikan untuk orang-orang yang punya penyakit inflamasi, orang sehat juga bisa mengikuti diet ini untuk meningkatkan kesehatan! (UH)

 

Sumber:

Medical News Today. Anti-inflammatory diet: What to know. Januari 2020.
Arthritis Foundation. Anti-Inflammatory Diet.