463
source: freepik

Selamat Hari Ibu! Tulisan ini untuk para ibu hebat di mana pun Anda berada. Anda tidak perlu menjadi sempurna.

Ketika menanti anak pertama, berapa dari kita yang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin? Membaca buku, bertanya pada orang yang lebih berpengalaman, mencari info di internet, sampai mengikuti akun media sosial beberapa ibu muda yang menjadi panutan.

Itu juga yang saya lakukan. Semua saya siapkan dengan detail. Entah itu masalah pemberian ASI, tumbuh-kembang bahkan masalah makan yang masih 6 bulan sejak kelahiran baru akan saya lewati. Semua saya cari tahu sejak awal kehamilan. Tujuannya satu, saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Saya ingin membesarkan anak ini seideal mungkin. Semirip mungkin dengan panduan yang saya baca.

Saya percaya diri dengan kemauan dan keteguhan hati, saya bisa membesarkan anak saya sesuai dengan “aturan”.

Di bulan-bulan awal, saya harus mengakui bahwa percaya diri saya terlalu tinggi. Saya kira saya bisa melakukan semua ini dengan mudah. Saya tidak tahu kalau membesarkan anak itu penuh tantangan.

Di 3 bulan pertama, saya sudah berjanji bahwa anak saya, Lumi, akan selalu tidur di boks. Lumi memang tidur di sana, tetapi hanya berlangsung 2 bulan. Setelah itu, ia tidur bersama kami. Karena kalau dipaksa tidur di boksnya sendiri, sudah pasti saya dan suami tidak tidur semalam suntuk.

Baca Juga : Terima Kasih Ibu…

Belum lagi masalah makan. Dulu saya selalu meneguhkan hati, Lumi akan selalu makan di kursi makannya dan tidak akan makan sambil menonton tv. Tapi apa daya, di awal belajar makan, Lumi sangat susah makan. Berat badannya sulit bertambah. Pipinya yang dahulu tembam, lama-lama kempis. Tentu saya panik. Mulailah melanggar komitmen saya satu demi satu. Mulai dari memperbolehkan Lumi pindah makan di pangkuan, sampai makan sambil menonton tv. Saya tahu ini salah, tapi saya sebagai ibu baru yang panik memilih untuk mencari cara instan.

Masih banyak kegagalan saya yang lain untuk mempertahankan komitmen dari sekedar tidak membentak anak saya sampai suka lupa membacakan buku.

Apa saya sudah masuk katagori ibu yang gagal?

Saya melihat, memperhatikan, dan belajar dari ibu-ibu muda lain, baik di media sosial atau di kehidupan nyata. Saya lihat perjalanan mereka sebagai ibu, perjuangan mereka berjibaku dengan komitmen-komitmen yang mereka buat sendiri. Mereka yang berhasil dan yang tidak. Teman-teman saya yang bisa menaruh bayinya tetap di boks,  walau mereka kelelahan. Atau mereka yang teguh tidak mau memberikan iming-iming video untuk memaksa anak mereka makan.

Saya juga memperhatikan ibu-ibu yang gagal dengan komitemen mereka. Mereka yang gagal memberikan ASI selama yang mereka harapkan. Mereka yang gagal tidak memberikan obat kimia pada anak mereka ketika bayi. Saya juga banyak belajar dari mereka.

Lalu saya melihat sendiri jejak perjalanan saya. Di balik rentetan kegagalan saya, saya juga melakukan beberapa hal yang cukup baik. Kalau sedang tidak di daycare, saya mengurus Lumi seutuhnya, dari makanannya, mandinya. Semuanya. Saya meninggalkan pekerjaan kantoran saya untuk bisa merawat Lumi lebih banyak.

Lalu saya mulai bertanya. Apa saya gagal? Atau saya berhasil? Tapi buat saya ibu yang gagal atau yang tidak, tidak ada parameter pastinya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk ibu. Semua perjuangan punya kegagalan dan keberhasilannya masing-masing.

Tapi saya, sebagai seorang ibu, hanya bisa terus belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Saya mulai meniadakan gadget dari acara makan Lumi. Saya mulai rajin membacakan minimal 5 cerita per hari pada Lumi. Mungkin ini hal biasa, tapi setidaknya ini salah satu perjuangan yang saya bisa lakukan untuk anak saya. Karena sebenarnya, seorang ibu memang tidak akan bisa sempurna, ia hanya bisa terus menerus berjuang untuk menjadi lebih baik. Itulah satu-satunya cara anak-anak akan tumbuh menjadi lebih baik juga, melihat panutan mereka berusaha memperbaiki diri setiap harinya. Kita bisa gagal berkali-kali, tapi kita tidak bisa berhenti berjuang untuk anak-anak kita sampai hembusan terakhir napas.  Karena memang ibu adalah pejuang!

http://guesehat.com/wp-content/uploads/2016/12/463-1024x683.jpghttp://guesehat.com/wp-content/uploads/2016/12/463-150x150.jpgSiksta AliaKomunitasLifestyleTerbaruWanitaHari Ibu,InformasiSelamat Hari Ibu! Tulisan ini untuk para ibu hebat di mana pun Anda berada. Anda tidak perlu menjadi sempurna. Ketika menanti anak pertama, berapa dari kita yang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin? Membaca buku, bertanya pada orang yang lebih berpengalaman, mencari info di internet, sampai mengikuti akun media sosial beberapa ibu...Blog Kesehatan GueSehat